Aku tak sanggup menahan butiran-butiran
bening itu yang mengalir halus dipipiku. Butiran-butiran bening itu mengalir
bagaikan aliran anak sungai. Aku menangis bukan karena putus cinta, tapi aku
menangis karena aku harus kehilangan salahsatu motivatorku yaitu seorang Ibu
Guru yang selalu menjadi penyemangat disetiap hari-hariku yang memang aku kagumi.
Atau mungkin aku terlalu cepat untuk mengagumi sosok beliau sehingga waktu
terasa sangat singkat terlewati.
Aku terkejut saat salahsatu sahabatku
menepuk pundakku.
“Mut,
kamu kenpa?” tanya sahabatku.
“hmm,
aku tidak apa-apa” jawabku.
Aku
pergi tanpa melihat wajahnya.
Terdengar
suara sahabat-sahabatku yang memanggilku, namun aku hiraukan itu.
Jam istirahat
aku bertemu dengan sang motivatorku itu. Ingin rasanya aku memeluknya tuk
terakhir kali sebelum beliau pergi, namun aku takut tak mampu menahan air
mataku, dan akupun memeluk erat tubuhnya seakan tak ingin ku lepaskan dan aku
menangis dipangkuannya. Dalam hati berkata (berat sebenarnya hati ini untuk
berpisah).
“ibu pergi sayang, do’akan ibu agar ibu sehat selalu ya Nak!
Dan ibu do’akan agar kelak kau berguna bagi nusa dan bangsa”.
“iya bu, baik-baik disana ya, jangan lupakan aku. Aku disini
akan selalu menunggumu, aku tetap menanti mu Ibu Guruku” jawabku.
Ku coba
tersenyum saat beliau pergi, meski lara hati menangis melepasmu, andaikan
beliau tahu, bahwa aku disini sangat menyayanginya. Dan mungkinkah kitakan
selalu bersama walau terbentang jarak antara kita?. Kata hatiku.
Pulang sekolah
ini aku berjalan gontai. Panasnya matahari dengan kesedihan yang aku rasakan
menemani ku pada saat aku berjalan. Dalam hati berkata (dulu beliau selalu ada
untukku, selalu menghiburku, dan aku merasa nyaman saat aku berada
disampingnya. Disaat aku resah beliau selalu ada disampingku dan disaat aku
merasakan gelisah beliau selalu peluk erat tubuhku. Tapi kini semua itu
hanyalah sebuah khayalan yang mungkin sulit untukku meraihnya, dan kini mungkin
beliau telah disibukkan dengan kesibukkan-kesibukkannya hingga mungkin tak ada
lagi waktu untukku. Tapi disini aku mencoba untuk mengerti sebuah keadaan,
bahwa ini memang harus terjadi kepadaku).
Malam ini aku
termenung di dalam kamar tidurku dengan derai air mata yang tak tertahankan.
Teringat akan semua kenangan indah saat aku masih bersamanya. (Tuhan, andaikan
beliau datang kembali, disini aku sangat merindukannya) kata hatiku. Lagu!
Lagulah yang menjadi kenangan tersendiri saat aku masih bersamanya.
“semoga dirimu disana kan baik-baik saja, disini aku kan
selalu rindukan dirimu wahai Ibu guruku”.
“amin, makasih sayang! Ibu bahagia memiliki siswa yang
seperhatian ini sama ibu, makasih ya Nak!” jawabnya.
“inilah aku bu, mungkin dengan perhatian itu ibu merasa
terganggu atau apakah itu mohon maaf ya bu” jawabku.
“tidak apa-apa Nak! Ibu bahagia dengan semua ini karena
tidak semua siswa seperhatian ini sama ibu” jawabnya.
Sekian lama
kita tak bersama, kini hanya rasa rindu merasuk dalam dada.
“bu, aku merindukanmu rindu akan kehadiranmu disampingku”.
“iya nak! Begitu juga dengan ibu. Do’akan saja agar ibu
sehat selalu ya. Dan yakinlah bahwa suatu saat nanti kita memang akan
bersama-sama lagi” jawabnya.
Tapi mengapa
hati ini masih ragu bila dirinya akan kembali bersamaku lagi. sedangkan kini
beliau selalu membuatku resah dengan keadaan yang sering kali hilang entah
kemana. Akupun bertanya pada hati ini (akankah dirinya menyayangiku secara
utuh? Utuh seutuhnya saat pertama kita berjumpa?) akupun berfikir dengan hati
dan perasaan yang gundah.
Hari demi
hari ku lewati tanpa hadirnya beliau disampingku, kini hanya kehampaan hati
yang kurasakan. Ingin rasanya ku ulang kembali masa-masa indah itu. Dalam hati
(kemana perginya masa indah itu? Tuhan tolong kembalikan kisahku). Tapi mungkin
untuk saat ini waktu ini tinggalah kenangan yang hanya tersisa didalam hati
ini. Aku selalu bertanya pada hati ini (apakah mungkin dirinya akan selalu
menyayangiku dimanapun beliau berada?) entah! Entah dan entah! Jawab hatiku.
Dan kini aku hanya bisa terdiam dan tepuruk melewati hari-hari ini tanpa
hadirnya dirinya yang selalu mewarnai hidupku. Dan kini harus aku lewati sepi
hariku tanpan dirinya lagi dan biarkan kini ku berdiri melawan waktu saat tak
bersamamu, walau sebenarnya pedih hati namun aku bertahan.
Seperti biasa
hari itu aku kembali pergi kesekolah dengan wajah yang lesu dan mata yang
sembab. Jam istirahat pun berbunyi “Teng..Nong”. Aku kembali merenung,
butiran-butiran bening itupun kembali jatuh saat aku kembali teringat akan
semua kenangan itu yang dimana biasanya aku selalu mendapatkan sebuah kata sapa
darinya tapi kini itu semua telah hilang entah kemana. Dan biasanya aku selalu
memandang wajahnya (memandang wajahmu cerah membuatku tersenyum senang indah
dunia) kata hati ini. Disaat aku sedang termenung, dengan tiba-tiba datanglah
salahsatu sahabatku yang dengan tergesa-gesa menghampiriku.
“kamu kenapa? Ko terlihat seperti tergesa-gesa seperti itu?
Ada apa?” tanyaku.
Lalu ia menjawab . . .
“apakah kamu tahu bahwa sang motivatirmu datang kembali
kesini?”.
“hah! Ibu guru itu? Benarkah? Kamu sedang tidak bercanda
kan? Sekarang dimana beliau?” jawabku.
“iya, aku sedang tidak main-main, beliau memang datang
kembali kesini, sekarang beliau sedang berada diruang guru” jawabnya.
Akupun dengan
segera menghampiri beliau. Ketika aku kembali lagi berjumpa dengannya, aku
peluk erat dirinya seakan tak ingin aku lepaskan untuk yang kedua kalinya, dan
aku berkata.
“ibu, aku merindukanmu”.
Lalu beliau menjawab..
“iya nak! Begitu pun dengan ibu”
“bu akankah ibu kembali lagi kesini untuk mengajar kami
semua? Kami semua disini rindu akan belajar bersamamu, rindu akan cara
mengajarmu. Tanyaku.
“hmm, ibu kurang tahu nak. Ini semua hanya sementara. Suatu
saat nanti ibu akan kembali lagi mengajar disini tapi tidak untuk saat ini. Dan
mungkin ibu tidak dapat membimbing
hingga Muti lulus ya. Meski demikian Muti jangan khawatir meski ibu
tidak disini, tapi hati ibu masih untukmu Nak!. Dan yakinlah bahwa suatu saat
nanti kita memang akan kembali bersama lagi”. jawab ibu guru itu.
Malam harinya
aku kembali meneteskan air mata ini (jangan berakhir aku tak ingin berakhir,
aku masih menginginkan untuk diam berdua dengan mengenang yang pernah ada.
Jangan berakhir, aku tak ingin berakhir, satu jam saja itupun tak mungkin dan
tak mungkin lagi). Dihatiku terukir namamu cinta dan rindu selalu beradu satu,
namun aku masih maragu, akan adakah aku dihatinya dan akan adakah aku
dimimpinya?. Tuhan, jika memang beliau harus pergi meninggalkan aku, aku mohon
untuknya agar beliau tidak melupakan aku dan semua kenangan indah itu. Dan
Tuhan tolong sampaikan sejuta sayang dan rinduku untuknya.
Sekian lama aku tak berjumpa, suatu hari
aku dipertemukan kembali dengan sang motivatorku. Saat aku berjumpa aku merasa
ada yang lain dihati ini tak seperti biasanya dengan hati ini, aku merasa
beliau tampak beda dan tak seperti dulu. Hati ini hanya berkata (mungkin waktu
yang telah mengubah semua ini).
Sekarang kita
memang berjauhan, akan tetapi suatu saat nanti kita akan bersama-sama lagi.
Disaat aku berada jauh darinya, aku merasakan arti yang sebenarnya dari sebuah
kerinduan, dan aku yakin bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu yang memang
indah untukku. Dan saat ini aku tidak terlalu berharap kau ada disini untukku,
tapi saat ini aku hanya berharap kau tahu bahwa aku disini selalu merindukanmu.
Hanya Tuhan yang tahu bagaimana hati dan perasaan aku saat ini.